Goyang Lidah, Spesial Sate Mentok Ala Mak Sutiah

0
Pencinta kuliner menikmati sate. (Musafa)
Pencinta kuliner menikmati sate. (Musafa)

Halopantura.com Tuban – Berkunjung di Bumi Wali sebutan Kabupaten Tuban tidak akan lengkap tanpa mencoba masakan khas buatan Mak Sutiah, sate mentok. Hidangan sate itu membuat nafsu makan kita bertambah karena dagingnya besar, empuk, gurih, dan memiliki citra rasa tersendiri.

Warung sederha itu tidak sulit dicari, karena jaraknya tidak jauh dari kawasa kota, tepatnya berada di Jalan Majapahit gang Buyung Desa Karang, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Warung yang dibangunan dari bambu berdiri diatas lahan sekitar 200 meter persegi itu dikenal masyarakat dengan sebutan warung Sor (di bawah, red) Sawo.

Suasana rindang dibawah pohon sawo juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pencita kuliner untuk menikmati sate itu. Selain itu, sate tersebut sangat cocok disantap pada siang hari di jam istirahat kantor. Namun jika telat pesan, bisa dipastikan kita tidak mendapatkan jatah sate itu. Sebab banyaknya masyarakat yang memburu.

Rasa khas dan cara membuat sate mentok itu dipertahankan oleh Mak Sutiah sejak hampir 22 tahun. Sehingga sampai sekarang warung itu menjadi jujukan para pencinta kuliner, baik dari Tuban maupun luar darerah.

Daging sate seukuran ibu jari orang dewasa berwana coklat mengkilat yang dibumbui kecap, sambal, irisan bawang merah dan tomat, membuat pengunjung tak sabar menyantapnya. Rasa sate saat dicampur dengan bawang merah dan sambal membuat ‘ngiler’. Pastinya nikmat sekali dan berbeda dengan sate lainnya.

“Kebanyakan sate itu kan bahannya dari daging ayam atau kambing, tapi rasa sate mentok ini lebih enak. Dagingnya besar, empuk, dan gurih,” kata Ahmad Mubarok sambil menikmati sate.

Mubarok yang datang bersama rekan kerjanya mengaku sudah menjadi pelanggan tetap Mak Sutiah ini. Karena rasa sate mentoknya enak, dan ada tambahan menu berupa becek mentok pula dengan bau rempah-rempah.

“Rempah-rempah di beceknya terasa sekali, nikmat pokonya dan baunya sedap. Serta daging mentok empuk yang tak kalah dengan satenya,” ungkap Mubarok yang datang sekitar pukul 12.00 Wib.

Siang itu, warung Mak Sutiah nampak dipenuhi pelanggan dari berbagai daerah. Mereka datang ada yang menggunakan mobil dan sepeda motor. Itu tampak dari kendaraan yang terparkir di halaman warung Sor Sawo.

Mak Sutiah mendirikan warung Sor Sawo bersama suaminya sejak tahun 1995 silam. Resep sate dan becek mentok itu tidak pernah berubah hingga saat ini. “Kita utamakan rasa, sejak dulu mas dan sampai sekarang,” terang  Mak Sutiah

Banyaknya pelanggan yang datang setiap harinya, Mak Sutiah dalam sehari mampu menghabiskan hingga 12 ekor mentok. Itu biasanya dia olah menjadi sate dan becek mentok.

“Dagingnya dibuat sate, kalau balungan (tulang, red) dibuat becek,” katanya.

Untuk harga juga tidak terlalu mahal dan sesuai dengan rasa. Satu porsi hanya mengeluarkan dengan Rp 35 ribu untuk 10 tusuk sate mentok, ditambah satu bungkus nasi jagung, dan satu gelas es manis. Sedangkan satu porsi becek mentok dihargai Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. (mus/roh)

Tinggalkan Balasan