2.020 Anak Putus Sekolah di Bojonegoro Ikuti Upacara Hardiknas

0
Ketika upacara Hardiknas 2017. (Galuh Setiyadi)
Ketika upacara Hardiknas 2017. (Galuh Setiyadi)

halopantura.com Bojonegoro – Sebanyak 2.020 peserta mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Stadion Letjen H Soedirman, Kabupaten Bojonegoro, Selasa (2/5). Jumlah 2020 peserta tersebut merupakan usia anak sekolah mulai 7 tahun hingga 19 tahun yang tidak mengenyam pendidikan alias putus sekolah.

Anak–anak tersebut akan menjadi bagian kisah peringatan Hardiknas di Kabupaten Bojonegoro. Dalam upacara mereka juga tidak berseragam. Namun mereka diberi kebebasan untuk menggunakan pakaian batik bebas dan bersepatu atau hanya menggunakan sandal saja.

Bupati Bojonegoro, Suyoto menyampaikan dirinya sudah sering kali mengikuti upacara. Namun upacara kali ini sangat berkesan dan apalagi saat pembacaan ikrar tekad untuk kembali sekolah.

“Ini tanggungjawab kita kepada Allah SWT tentang pentingnya meningkatkan kemampuan generasi,” ucapnya ketika menyampaikan sambutan.

Bupati kepada seluruh peserta upacara menyampaikan tujuh pesan agar peserta upacara mampu menjadi orang yang sukses. Salah satu tujuh pesan tersebut adalah memiliki ketrampilan, berpikir kritis bukan berpikir sinis. Yakni generasi yang mengedepankan sebab akibat dan tak lelah untuk menemukan solusi.

“Selanjutnya adalah berpikir inovatif dan kreatif serta senantiasa berpikir bahagia. Kita canangkan wajib belajar 14 tahun yakni dua tahun di jenjang taman kanak kanak, enam tahun dijenjang pendidikan dasar dan masing masing tiga tahun di jenjang pendidikan menengah dan atas,” terang Bupati Bojonegoro.

Sebatas diketahui, beradsarkan data yang dihimpun ada sebanyak 52 ribu anak usia sekolah disemua tingkatan, ternyata terdapat 8.000 anak yang tidak bersekolah dengan berbagai faktor hal. Mulai yang menderita sakit, keterbatasan biaya atau akses sekolah yang jauh dan beberapa hal lainnya. Kondisi itu membuat mereka memilih untuk tidak meneruskan pendidikan.

Selain itu, faktor–faktor lain yang menjadi alasan putus sekolah yakni mereka memilih bekerja untuk membantu dan meringankan beban hidup kedua orang tuanya. (luh/roh)

Tinggalkan Balasan