5 Mahasiswa Universitas Airlangga Asal Tuban Manfaatkan Limbah Kulit Siwalan Jadi Bermanfaat

0
Mahasiswa Universitas Airlangga ketika melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Semanding, Kecamatan Semanding, Tuban.

halopantura.com Surabaya – Lima mahasiswa Universitas Airlangga telah melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Semanding, Kecamatan Semanding, Tuban. Mereka melakukan inovasi dengan memanfaatkan limbah kulit siwalan menjadi asap cair sebagai pestisida organik melalui program kreativitas mahasiswa bidang pengabdian masyarakat tahun 2019.

Lima mahasiswa itu tergabung dalam Tim ACAR,  terdiri dari Teguh Dwi Saputro, Tiyani, Achmad Ferdynan Thomas Irwan, Novia Tri Handika, dan Nova Faridatus Sholihah. Mereka semua merupakan mahasiswa asal Bumi Wali Tuban.

Siwalan merupakan sejenis tanaman palma (pinang – pinangan) yang tumbuh di Indonesia, salah satuunya di Kabupaten Tuban. Pohon siwalan ini banyak dimanfaatkan daunnya, batangnya, buah, hingga bunganya yang dapat disadap untuk diminum langsung sebagai legen (nira) ataupunn  diolah menjadi gula siwan (sejenis gula merah).

Namun pemanfaatan pohon siwalan juga menghasilkan kulit siwalan yang dibuang begitu saja, tanpa diolah kembali, sehingga  menumpuk dan menjadi limbah. Padahal limbah kulit siwalan sebenarnya bisa dimanfaatkan kembali dan mempunyai potensi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satunya dengan memanfaatkannya menjadi asap cair sebagai pestisida organik.

Teguh Dwi Saputro, selaku pencetus ide ini mengajak Tiyani, Achmad Ferdynan Thomas Irwan,Novia Tri Handika, dan Nova Faridatus Sholihah, untuk mengembangkan inovasi dengan memanfaatkan kulit siwalan menjadi asap cair sebagai pestisida organik di Desa Semanding, kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.

Penggunaan pestisida anorganik yang semakin tinggi disebabkan karena dinilai lebih cepat efeknya dari pada pestisida organic. Namun perlu diketahui bahwa penggunaan pestisida anorganik yang tidak terkontrol akan menimbulkan resisten terhadap hama tanaman, kandungan nutrisi tanaman yang bercampur dengan pestisida, lebih mahal jika dibandingkan dengan pestisida organic dan predator alami berkurang serta dapat munculnya hama baru,.

Selain itu pestisida anorganik juga membahayakan lingkungan. Oleh karena itu, inovasi ACAR (Asap Cair) sebagai pestisida organik dapat menjawab permasalahan tersebut. Hal tersebut didukung dengan data yang diperoleh dari study literature yang dilakukan, menunjukan  masyarakat desa Semanding sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani yang menjadikan inovasi ACAR (Asap Cair) sebagai pestisida organic ini tepat sasaran dan nantinya bermanfaat bagi petani.

Teguh mengatakan bahwa ide ini berawal dari keprihatinannya melihat limbah dari kulit siwalan yang semakin hari semakin menumpuk, karena jika dibiarkan, lama kelamaan berpotensi mencemari lingkungan.

Hal tersebut didukung dengan laporan dari salah satu anggota karang taruna Desa Semanding bahwa mereka juga sebenarnya mempunyai keinginan mengolah limbah tersebut, namun belum mengetahui dan mempunyai ide akan diolah menjadi apa dan bagaimana caranya. Hal tersebut yang juga memotivasi Teguh Dwi Saputro untuk membuat inovasi untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Akhirnya, setelah melakukan studi literatur, tercetuslah ide untuk memanfaatkan limbah kulit siwalan menjadi asap cair sebagai pestisida organic. Selanjutnya untuk mendukung berjalannya program ACAR, dia mengajak teman – temannya yang berasal dari Tuban untuk menjadi timnya yang bernama ACAR.

“Saya awalnya hanya punya angan – angan untuk memanfaatkan limbah kulit siwalan menjadi suatu yang bermanfaat seperti etanol, namun hal tersebut sudah biasa. Akhirnya saya baca – baca lagi, dan menemukan inovasi asap cair dari bahan yang berbeda yaitu tempurung kelapa.

Ternyata kandungan yang ada dalam kuit siwalan sama dengan tempurung kelapa sehingga dapat dimanfaatkan menjadi asap cair yang bermanfaat dibanyak bidang, salah satunya bidang pertanian yaitu sebagai pestisida organic.

Akhirnya tercetuslah ide untuk memanfaatkan limbah kulit siwalan menjadi asap cair di Desa Semanding kecamatan Semanding Kabupaten Tuban nmelalui program kreativitas mahasiswa bidang pengabdian masyarakat,” ucap Teguh.

Inovasi ACAR (Asap Cair) memanfaatkan limbah kulit siwalan yang diolah melalui proses pirolisis, kondensasi dan dilanjutkan distilasi. Asap cair sangat banyak manfaatnya, salah satunya sebagai pestisida organic.

Telah banyak penelitian dan uji coba yang menyatakan bahwa asap cair dari bahan lain seperti tempurung kelapa, kayu, sekam padi, bonggol jagung dan bahan lain yang mengandung lignin, selulosa dan hemiselulosa yang dapat dimanfaatkan menjadi asap cair yang mampu mencegah hama yang merusak tanaman.

Asap cair dari limbah kulit siwalan terbuat dari bahan dasar bahan alami, tentunya penggunaan asap cair dari kulit siwalan ini aman untuk kesehatan, Inovasinya ini merupakan pertama kalinya dilaksanakan di Desa Semanding, Kabupaten Tuban.

Menurut Tiyani selaku Ketua Tim ACAR penggunaan asap cair dari limbah kulit siwalan secara perlahan mampu bersaing dengan pestisida anorganic yang telah marak digunakan oleh masyarakat namun berdampak buruk untuk lingkungan.

“Kami berharap bahwa inovasi ini didukung oleh pemerintah kabupaten Tuban. Kami juga berharap nantinya desa ini bisa menjadi desa percontohan desa arau daerah lain yang mempunyai potensi dan permasalahan yang sama.” ujar Ferdi selaku anggota Tim Acar.

Sedangakan  Didik sebagai ketua karang taruna Desa Semanding mengatakan bahwa pelatihan pengolahan limbah kulit nanas ini menambah pengetahuan dan ketampilan saya dan para anggota karang taruna desa semanding dan beberapa masyarakat yang mengikuti kegiatan ACAR (Asap Cair) hingga selesai.

Kegiatan ini selanjutnya akan kami agendakan setiap bulannya sebagai kegiatan mandiri bagi karang taruna desa kami, yang selanjutnya diharapkan bisa kami ajarkan kepada masyarakat Desa Semanding.

Selain itu harapannya agar asap cair sebagai pestisida organic ini diproduksi secara masal dan digunakan sebagai pestisida orgnaik yang tentunya ramah lingkungan dan dapat mengurangi penggunaan pestisida anorganik yang tidak terkontrol. Selain itu juga mengurangi limbah kulit siwalan yang berserakan dan menumpuk.

Pengolahan limbah kulit siwalan menjadi asap cair sebagai pestisida organic diharapkan menjawab permasalahan kebersihan dan tidak terkontrolnya penggunaan pestisda anorganik yang menimbulkan kerusakan lingkungan serta dapat menjadi inspirasi daerah lain yang mempunyai potensi dan permasalahan yang sama.

Selain itu pemanfaatan limbah kulit siwalan ini berpotensi menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat Desa Semanding sehingga dapat meningkatkan perekonimian masyarakat. (Teguh Dwi Saputro/Universitas Airlangga)

Leave a Reply