Berguru pada Alam: Belajar Fokus Membangun Bangsa

0
Ilustrasi

Oleh : Moh. Ilyas (Pemerhati Sosial dan Politik)*

“The best teacher is natural, every adventure will definitely teach you something of value to you,”.

ALAM adalah guru terbaik. Begitulah barangkali kesan sebagian kita tentang kekuatan alam. Ini pula yang aku rasakan sejak kedatanganku ke areal pegunungan ini siang tadi.

Dengan dikelilingi lereng  perbukitan dan pegunungan, cuaca di tempat ini begitu sulit ditebak. Tetapi ketika angin tengah berembus kencang, maka udaranya akan cukup kuat menembus dan menusuk pori-pori tubuh, sehingga terasa dingin luar biasa.

Di sini, aku sungguh dihadapkan pada alam. Namun bagaimana pun, alam harus dijadikan sahabat. Kita perlu belajar satu hal dari alam: fokus. Jika engkau fokus maka alam akan bersamamu. Tetapi jika engkau tidak fokus, alam juga tidak akan bersamamu, bahkan akan meninggalkanmu. Begitulah sekelumit pesan dari para pelatih dalam diklat ini sore tadi.

Pesan ini mengingatkanku pada Tai Chi, salah satu seni bela diri China. Tai Chi melatih penggunaan Energi Chi melalui latihan-latihan keseimbangan dan keselarasan antara tiga elemen: gerak fisik, pikiran (konsentrasi, ketenangan), serta pengaturan nafas. Dalam sebuah film kungfu yang dibintangi Jet Li, terdapat sebuah pesan penting dari Tai Chi, yaitu “menyatu dengan alam”.

Ketika hendak menyatu dengan alam, konsentrasi dan ketenangan menjadi keniscayaan untuk dimiliki. Ia harus kita miliki dalam melakukan aktivitas apapun karena ia akan menciptakan fokus dalam gerak langkah kita sekaligus rencana kita.

Di sinilah kenapa kemudian die Regionale Schulberatungsstelle für den Kreis Warendorf memaknai konsentrasi sebagai “die Fähigkeit, die gesamte Aufmerksamkeit auf etwas auszurichten”, yakni kemampuan untuk memusatkan perhatian terhadap suatu hal.

Fokus Membangun Bangsa

Tentu saja, fokus dan konsentrasi tidak hanya untuk hal remeh-temeh dalam kehidupan kita. Dalam persoalan kebangsaan pun, kita mesti belajar fokus dan konsentrasi, yang banyak diajarkan alam semesta.

Ya, bangsa ini harus fokus dan konsentrasi. Kemana ia hendak melangkah. Konsentrasi di sini bukan sekadar berupa janji dan rangkaian kata-kata, apalagi memanipulasi pembangunan bangsa ini. Konsentrasi ini dimaksudkan untuk menjadikan bangsa ini benar-benar sebagai tempat sempurna bagi terciptanya kesejahteraan rakyat, bukan kesejahteraan segelintir elite saja. Tangan-tangan para abdi bangsa ini, yakni para penguasa adalah betul-betul pro-poor, berpihak pada kaum mustadh’afin.

Jika kita melihat konteks saat ini, sepertinya konsentrasi masih menjadi barang mahal. Konsentrasi bangsa ini masih sangat layak dipertanyakan. Sebab, belum terlihat bahwa negara menjadikan alam sebagai guru dalan belajar fokus dan konsentrasi membangun bangsa ini. Jika pun ada, namum konsentrasi bangsa ini lebih terlihat hanya fokus pada hal-hal yang bersifat pragmatis dan opportunistik yang menguntungkan kelompok tertentu saja.

Ini pula yang menjadi kritik terhadap penguasa saat ini yang kerap disebut kehilangan fokus. Fokus penguasa disebut hanya untuk bagaimana bertahan dari kekuasaan, bukan bagaimana menjadikan kekuasaan itu sendiri sebagai alat untuk menyejahterakan rakyatnya. Paling tidak ini bisa dilihat dalam setahun terakhir, bagaimana energi dan konsentrasi bangsa ini hanya dihabiskan untuk hal-hal yang sifatnya kasuistik, bukan pada agenda yang sudah dicanangkan, agenda yang mestinya menjadi policy membangun bangsa.

Betapa kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok sampai menyeret jejak langkah seorang presiden berkunjung ke tempat ini, ke Hambalang untuk bersua Prabowo Subianto. Betapa sering pula saat itu presiden bertamu ke ormas-ormas Islam terkemuka seperti NU dan Muhammadiyah, atau Istana mengundang berbagai tokoh, termasuk para pemimpin media massa. Semua itu terlihat lebih dimaksudkan agar kursi kepresidenan tidak sampai terganggu.

Tentu tak ada yang salah dengan kunjungan atau silaturrahim tersebut. Yang salah sesungguhnya adalah perubahan arah fokus bangsa ini dari membangun menjadi kepada melindungi ataupun menjaga kekuasaan selalu dalam genggaman.

Maka jika demikian terus terjadi, lalu siapa yang peduli terhadap ekonomi kita? Siapa yang peduli kepada arah pemberantasan kemiskinan yang masih melangit, atau kesenjangan ekonomi kita yang masih menganga? Bukankah sekitar 80 persen aset bangsa kita masih dikuasai oleh asing? Bagaimana dengan utang kita yang sudah di atas Rp4.000 Triliun? Kemana saja pemerintah kita?

Oleh karenanya, fokus dan konsentrasi bangsa ini perlu dire-evaluasi, bahkan direkonstruksi. Alasannya karena banyak hal yang justru dilupakan dari arah pembangunan bangsa ini. Bukankah pembangunan fisik yang digalakkan pemerintah melalui pintu utang juga kebijakan yang tidak tepat alias salah arah?

Tentu, selain itu semua masih banyak persoalan lain dan juga kebijakan strategis yang terkesan tanpa arah. Oleh karenanya dalam konteks ini alam menjadi sangat penting untuk dijadikan contoh membangun konsentrasi dan fokus sehingga jangan sampai arah perjalanan sekaligus pembangunan bangsa ini tidak jelas dan bahkan melenceng. Kita berharap arah bangsa ini jelas dengan kebijakan-kebijakan yang terarah pula.

Jika tidak, siap-siaplah bangsa ini seperti yang dikhawatirkan banyak orang, hanya akan menjadi bangsa yang gagal atau bahkan kembali ke masa lalu. Bukan mustahil jika kita di tahun 2017 ini akan lompat ke belakang, kembali ke masa-masa seperti Orde Baru, atau bahkan Orde Lama, saat kita awal-awal menghirup udara kemerdekaan. Semoga tidak!

*Hambalang, 10 Juli 2017 / Pukul 23.46 Wib.

Tinggalkan Balasan