Di Tengah Pandemi, Gus Menteri Minta BUMDes Jadi Motor Penggerak Percepatan Ekonomi Desa

0
Gus Menteri ketika memberikan sambutan dan pengarahan ketika melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Lamongan.

halopantura.com Lamongan – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Halim Iskandar menyatakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) mesti bersinergi dengan usaha warga, dan menjadi konsolidator dalam rangka menjadi motor penggerak perekonomian  lokal desa.

Disisi lain, Gus Menteri, panggilan kesayangan Tenaga Profesional Pendamping Indonesia, menyatakan komitmennya akan menaikkan honor Pendamping Lokal Desa yang menjadi motor program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa (P3MD) dalam mengawal penyaluran dana desa.

“BUMDesa mesti menjadi  motor penggerak perekonomian desa serta warga desa. Karena dengan kondisi pandemi Covid-19 ini maka BUMDesa mesti mampu menjadi konsolidator usaha warga serta mendorong usaha warga desa berkembang,” kata Gus Menteri Desa Halim Iskandar saat memberikan sambutan di kunjungan ke Taman Wisata Bahagia Mahoni, yang dikelola BUMDesa Desa Kendala, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Sabtu (5/6/2021).

Gus Menteri Desa memberikan peringatan khusus kepada pengurus BUMDesa agar sebisa mungkin mencegah institusi serta bidang usahanya menjadi pesaing usaha yang dirintis warga.

“BUMDesa jangan sampai menjadi kompetitor usaha warga Desa, mesti menjadi trigger dan motor penggerak serta inisiator dan motivator usaha warga desa,” tegas mantan Ketua DPRD Provinsi Jatim.

Gus Menteri Desa menambahkan bahwa pihaknya tengah berupaya keras agar honor Pendamping Lokal Desa bisa Dinaikkan dalam waktu tidak lama lagi.

“Kemendesa sedang berupaya keras agar honor para PLD sebagai ujang tombak P3MD bisa naik, karena hal ini menjadi pemikiran Kemendesa agar kebijakan tersebut [honor PLD naik] segera bisa terwujud. Ini semua sebagai bentuk apresiasi atas kinerja PLD secara nasional,” tegas Gus Menteri Desa.

Secara khusus Gus Menteri Desa, Halim Iskandar menyatakan pihaknya tengah serius mengupayakan tentang proses survei pendataan SDGs Desa sehingga bisa terlaksana secara menyeluruh di semua Desa yaitu 74.517 Desa Dan 919 Desa berstatus nagari di Sumatra Barat.

“Survei data Sustainble Development Goal’s [SDGs] Desa bila berhasil dengan baik akan menjadi Big data nasional yang bisa digunakan semua sektor alias multisector agar mencegah data ganda serta tidak valid,” ungkapnya

Bupati Lamongan, Yuhronur Effendi menyatakan apresiasinya atas kehadiran Menteri Desa PDTT di Lamongan serta berkenan turun langsung memantau kondisi Desa.

“Alhamdulillah Gus Menteri Desa sudah berkenan meninjau jauh ke pelosok Desa Kendal Dan memantau keberadaan BUMDesa disini. BUMdesa di Kab. Lamongan harus bisa bersinergi dengan program-program Pemkab Lamongan khususnya Bela Beli produk asli Lamongan agar ekonomi Lokal bisa bergerak di masa pandemi Covid-19,” kata Yuhronur pada kesempatan sama.

Kepala Desa Kendal, Rois Purwo Nugroho tidak bisa menutupi kegembiraannya terkait kedatangan Gus Menteri Desa PDTT.

“Pemdesa Kendal sangat terkejut Dan tidak menyangka dengan kedatangan Gus Menteri di pelosok desa pinggiran Kab. Lamongan. Ini semakin meneguhkan jargon Pak President Jokowi, Membangun Indonesia dari pinggiran terbukti nyata,” kata Rois

Seperti diketahui, Menteri Desa PDTT berserta rombongan berkunjung ke Desa Kendal Kecamatan Sekaran Kabupaten Lamongan untuk meninjau BUMDesa serta Taman Wisata Bahagia Mahoni.

Dalam kunjungan itu  Gus Menteri Desa PDTT melakukan dialog dengan pemerintah desa serta pengurus BUMDesa setempat serta warga.

Selain itu juga akan diserahkan Sertifikat SDGs Desa kepada pemerintah desa yang telah menuntaskan kerjanya serta kepada Perwakilan TPP P3MD Lamongan.

Sebatas diketahui, Desa Kendal pada 2020 lalu meraih peringkat pertama dalam program Desaku Pintar di Kabupaten Lamongan.

Dimana, taman wisata Bahagia Mahoni ini merupakan implementasi dari Visi Desa Kendal sebagai Desa Literasi dimana melalui Cafe Literasi dengan jargon “No WiFi, Please Interaksi”, para pengunjung khususnya anak anak dipaksa harus membaca buku dan berinteraksi dengan sesama pengunjung lainnya.

Ada pula anak yang sekolah Alam dipandu para pemuda pemudi Karang Taruna, sementara orang tua terpisah dg sesama pengunjung lainnya sambil menikmati menu hidangan yang dipesan dari Cafe Literasi. (*/at/fin/roh)

Tinggalkan Balasan