Gandeng UB, Unirow Kupas Permasalahan Pesisir Tuban

0
Para narasumber ketik memaparkan materinya di acara diskusi publik di lantai dua kampus Unirow Tuban. (rohman)

halopantura.com Tuban – Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban bekerjasama dengan Universitas Brawijaya (UB) Malang menggelar diskusi publik dengan tema “Permasalahan Pesisir Tuban dan Solusinya” bertempat di gedung Rektorat lantai 2 kampus setempat, Sabtu (23/10/2021).

Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yakni peserta wajib pakai masker, jaga jarak dan lainnya. Termasuk, ketika peserta mau masuk juga dicek suhu, pakai hand sanitizer, dan lainnya.

Selian itu, ratusan peserta terdiri Dosen, mahasiswi dan masyarakat umum juga mengikuti secara daring. Hal itu dilakukan agar tidak menimbulkan kerumunan dan sebagai upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Diskusi publik itu digelar dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Tuban yang ke-728 dengan menghadirkan para narasumber unsur Pemerintahan, Kelompok Masyarakat, Guru Besar Unirow dan Para Guru Besar UB Malang.

Prof. Amin Setyo Leksono, selaku ketua tim Dosen Berkarya dari Universitas Brawijaya Malang dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan diskusi publik ini merupakan bagian dari Program Dosen Berkarya dari UB. Lebih lanjut, dia juga menyampaikan bahwa tujuan dari program ini yang pertama untuk meningkatkan reputasi dan rekoknisi UB, serta meningkatkan peran serta UB dalam pembangunan di masyarakat khususnya dunia industri dan pemerintah daerah.

“Untuk itu dalam kegiatan ini UB menerjunkan 5 orang pakar terdiri dari ahli di bidang perikanan, peternakan, lingkungan dan matematika,” ungkap Guru Besar UB tersebut.

Hal senada Juga disampaikan oleh Prof. Dr. Marjono, M.Phil. selaku Direktur Pascasarjana UB yang juga menjadi anggota Tim Dosen Berkarya. Dalam sesi wawancara dia menyampaikan bahwa melalui program ini UB mendukung program pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

“Ini untuk mendukung pembangunan sumber daya manusia melalui peningkatan jumlah pakar atau ahli dari perguruan tinggi yang bekerja atau mengabdi di luar kampus sesuai dengan keahlian dan kapasitas intelektualisasinya,” jelas Prof. Marjono sapaan akrabnya.

Ditempat yang sama, Rektor Universitas PGRI Ronggolawe Prof. Dr. Supiana Dian Nurtjahyani, M.Kes dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas dedikasinya dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan dari Tim Dosen berkarya.

Prof. Dian sapaan Akrab Rektor Unirow itu juga mengungkapkan bahwa kegiatan merupakan serangkaian kegiatan Dosen Berkarya yang meliputi Supervise, pendampingan dan konsultasi. Kegiatan ini juga untuk mencapai indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi.

“Indikator kinerja utama yang dimaksud disini adalah Dosen berkegiatan di luar kampus, Praktisi mengajar di Kampus, dan memberi pengalaman kepada mahasiswa untuk belajar di luar kampus,” terang Rektor dua periode tersebut.

Untuk diketahui dalam kegiatan ini dihadiri oleh Para narasumber adalah Prof. Dr. Supiana Dian Nurtjayani,M.Kes selaku Rektor Unirow Tuban, Dr. Ir. M. Amenan, ST selaku Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Tuban. Kemudian Bambang Irawan selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tuban.

Adapun isi dalam kegiatan diskusi ini sebagaimana yang disampaikan oleh beberapa pemateri dalam diskusi Kabupaten Tuban memiliki potensi sumber daya pesisir yang luar biasa meliputi sumber daya pantai, laut, perikanan budidaya, dan perikanan tangkap.

Secara Geografis Tuban terletak di sepanjang pantai Utara dengan Panjang kurang lebih 65 Km. Sehingga Kabupaten Tuban memiliki kekayaan potensi yang sangat tinggi, namun demikian masyarakat masih merasakan adanya permasalahan-permasalahan.

Salah satu permasalahan yang dikemukakan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tuban adalah permasalahan sampah dan limbah yang berdampak mencemari sungai dan pesisir Kabupaten Tuban. Permasalah ini tidak terlepas dari kapasitas tampung TPA, sarpras yang masih terbatas, dan rendahnya tingkat pelayanan penanganan sampah.

Selanjutnya narasumber dari Pokdarwis Pantai Kelapa menyampaikan permasalahan mengenai upaya masyarakat untuk mengembangkan pariwisata daerah yang masih menghadapi kendala. Diantaranya, meliputi keterbatasan tempat untuk mengembangkan potensi termasuk untuk pemasaran produk lokal, lemahnya dukungan para stakeholder dan kurangnya perekrutan tenaga kerja di wilayah pantai.

Tak berhenti disitu, salah satu peserta Musa Himantoro Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional (KNTI) Tuban, menyampaikan beberapa persoalan yang dihadapi. Seperti pemenuhan hak-hak nelayan untuk diperhatikan secara serius.

“Kami DPD KNTI Tuban sangat berharap kepada pemerintah (mas bupati) dengan kekuatan perda perlindungan hak-hak nelayan untuk penguatan dan mohon anggaran untuk bidang nelayan dan pesisir di tambah nilainya sehingga masuk skala prioritas pembangunan,” pungkasnya. (rohman)

Tinggalkan Balasan