Mengedepankan Ukhuwah dengan Akhlaqul Karimah

1
Masruhin Bagus

Oleh : Masruhin Bagus*

halopantura.com – Selepas magrib dan berbuka bersama keluarga, saya berbincang santai di beranda rumah dengan saudara-saudara. Perbincangan yang hangat, ditemani singkong goreng dan teh hangat. Obrolan semakin seru karena saudara saya yang tinggal di Jakarta sudah pulang ke kampung halaman. Banyak cerita yang ia bagikan. Mulai dari dunia pendidikan, politik, hingga dunia Islam. Hingga tak terasa pembahasan kami pada dua ustadz yang lagi viral di sosial media akhir-akhir ini yaitu Ustadz Abdus Somad dan Ustadz Adi Hidayat. Kalau pengen tahu, bisa di _search_ di Youtube atau di Google, maka akan kita dapatkan ceramah-ceramah beliau berdua.

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas profil beliau berdua. Jika ingin tahu, siapa Ustadz Abdus Somad dan Ustadz Adi Hidayat, kembali lagi, silahkan _googling_ di internet. _Insya Allah,_ profil dan biodatanya lengkap. Komentar saya pada beliau berdua dan kesimpulan akhir dari obrolan saya bersama keluarga bahwa mereka berdua sosok ustadz muda yang memiliki keluasan ilmu dan patut dicontoh dalam kemuliaan akhlak, serta santun dan bijak dalam berdakwah.

Ya, keluasan ilmu dan kemuliaan akhlak inilah yang penting. Seharusnya dua hal ini berbanding lurus. Semakin tinggi ilmu seseorang seharusnya semakin baik akhlaknya. Semakin rendah hati dan semakin bijaksana dalam menghadapi persoalan. Seperti ilmu padi, semakin tua dan berisi, semakin merunduk. Menunjukkan ke-rendah hati-an, tawadhu’, tidak ujub dan sombong. Jika padi masih belum merunduk berarti padi tersebut masih _‘kopong’_ alias belum berisi. Jika ada seseorang mengaku berilmu tinggi tapi tidak _tawadhu’,_ sering ujub dan sombong, bisa jadi ia masih _‘kopong’._

Dengan keluasan ilmu, seseorang akan menjadi bijaksana dalam melihat sebuah perbedaan. Lebih-lebih perbedaan tersebut bukan masalah akidah. Maka mengutamakan _ukhuwah_ jauh lebih baik daripada menonjolkan persoalan _khilafiyah._ Selama mereka masih menjalankan kewajiban sebagaimana muslim yang lain maka kewajiban bagi kita menjadikannya sebagai saudara. Saudara dalam satu akidah.

Kewajiban menjaga _ukhuwah Islamiyah_ ini adalah kewajiban semua muslim. Khususnya kepada para juru dakwah. Mereka harus menjadi duta _ukhuwah_ bagi umat. Selalu mengkampanyekan ukhuwah kepada umat, dengan mengesampingkan ego pribadi atau golongan. Ketika seorang da’i berdiri di atas mimbar ia adalah milik semua golongan. Maka seorang penceramah harus mampu mengedukasi umat untuk senantiasa menjaga _ukhuwah_ dengan menghargai setiap perbedaan yang ada dan lebih banyak mencari titik-titik persamaanya.

Seorang dai dengan keluasan ilmunya akan menjadi oase di tengah gurun sahara. Nasihatnya dinanti dan akhlaknya diteladani. Dai yang arif dan bijaksana akan mudah diterima dimana saja. Dicintai semua umat dan kehadirannya menjadi rahmat. Inilah yang kita harapkan. Bukan justeru sebaliknya, nasihatnya penuh caci maki, prilakunya penuh provokasi, dan umat diajak membenci. Golongan yang berbeda dengannya dianggap salah dan _’tidak nyunnah’._ Saya kadang miris, karena amalan yang tidak sama, bertetangga, tapi tidak bertegur sapa. Merasa kelompoknya paling benar, kelompok yang lain _“Fin Naar”._ Naudzubillah.

Tidak semua dai, ustadz, dan kiyai yang demikian, Insya Allah, masih banyak dai yang menyerukan kebaikan dengan kesantunan. Nasihatnya membawa kedamaian. Mereka merangkul bukan memukul, mengajak bukan menginjak, menasihati bukan menyakiti, menanamkan benih-benih perdamaian bukan benih-benih permusuhan dan pertikaian, mencari titik persamaan bukan sibuk mencari perbedaan, dan lebih sering memberi _uswah hasanah_ daripada sering berkata salah dan bid’ah. Lebih dalam menguatkan akidah dan _‘luwes’_ dalam bermuamalah dan mengedepankan _akhlaqul karimah_ dalam menghadapi persoalan khilafiyah.

Jika anda meyakini amalan anda yang paling benar itu tidak masalah. Tapi jika anda menganggap amalan anda yang paling benar dan menganggap amalan orang lain salah. Ini yang berbahaya, karena akan menjadi bibit perpecahan. Mohon maaf, jika saya katakan bahwa orang yang demikian adalah pertanda ilmunya masih kurang. Kitab yang dibaca masih kurang tebal. Saya mengatakan demikian bukan berarti ilmu saya sudah tinggi dan luas, bukan. Tapi saya hanya berusaha belajar memahami dan menghargai orang lain dalam ketidakmampuan dan kekurangan saya dalam membumikan ayat-ayat Allah. Mengutip nasihatnya Al-Imam Asy-Syaikh Said Al-Yamani mengatakan bahwa jikalau seseorang bertambah ilmunya dan luas cakrawala pemikiran serta sudut pandangnya, maka ia akan sedikit menyalahkan orang lain. Oleh karena itu, jangan terlalu tergesa-gesa ‘menyalahkan’ sebelum kita tahu betul, ‘salahnya’ dimana.

Teringat kisah dari Buya Hamka : seorang ulama yang menurut saya salah satu ulama yang mampu mengedepankan ukhuwah daripada persoalan khilafiyah di tengah keragaman Indonesia.

Suatu ketika Buya Hamka hendak mengimami jamaah shalat subuh, maka beliau suka bertanya kepada jamaah, apakah akan menggunakan qunut atau tidak. Dan ketika jamaah minta qunut, tokoh dan penasihat Muhammadiyah inipun mengimami shalat subuh dengan qunut.

Dalam kesempatan lain tentang masalah adzan dua kali. Suatu ketika di hari Jumat, KH. Abdullah Syafi’ie mengunjungi Buya di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Jakarta Selatan. Hari itu menurut jadwal seharusnya giliran Buya Hamka yang jadi khatib. Karena sahabatnya datang, maka Buya minta agar KH. Abdullah Syafi’ie saja yang naik menjadi khatib Jumat dan yang menarik, tiba-tiba adzan Jumat dikumandangkan dua kali, padahal biasanya di masjid itu hanya satu kali adzan. Rupanya, Buya menghormati ulama Betawi ini dan tahu bahwa adzan dua kali pada shalat Jumat itu adalah pendapat sahabatnya. Jadi bukan hanya mimbar Jumat yang diserahkan, bahkan adzan pun ditambahkan jadi dua kali, semata-mata karena ulama ini menghormati ulama lainnya.

Hal serupa ternyata diterapkan oleh saudara saya, ketika harus menjadi imam salat terawih maka ia bertanya kepada jamaahnya, “Biasa terawih 23 rakaat atau 8 rakaat?”, maka ketika jamaah meminta 8 rakaat, maka ia akan salat terawih 8 rakaat. Meskipun kebiasaan ketika menjadi imam di masjid dekat rumahnya salat terawih 23 rakaat. Inilah yang saya katakan dengan menghormati jamaah dan mementingkan _ukhuwah_ daripada persoalan _khilafiyah._

Mengakhiri tulisan ini saya akan menambahkan sebuah firman Allah yang memerintahkan kepada kita untuk senantiasa menjaga ukhuwah dan jangan mudah berpecah belah. Allah berfirman : _Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat._ (QS Al Hujurat: 10)

Dalam firman Allah yang lain : Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu. dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman_ (QS al Anfal: 1)

Dari ayat di atas, semoga kita menjadi bagian dari umat yang beriman dan bertakwa yang senantiasa menyerukan ukhuwah, menjalin persaudaraan, tidak mudah terpancing dengan isu pertikaian dan permusuhan. Menjadi umat yang kuat secara akidah, mengedepankan ukhuwah dengan akhlaqul karimah, serta mengesampingkan persoalan khilafiyah. Dan semoga kita mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Aamiin. (wallahu a’lam)

*Refleksi akhir Ramadhan, 29 Ramadhan 1438 H.

1 KOMENTAR

  1. I see you don’t monetize your website, don’t waste your traffic, you can earn additional cash every month
    because you’ve got high quality content. If you want
    to know how to make extra bucks, search for:
    Boorfe’s tips best adsense alternative

Tinggalkan Balasan