Menunggu Berkah, Begini Nasib Petani Tembakau Sumenep

halopantura.com Sumenep – Petani tembakau yang berada di Kabupaten Sumenep sedang diuji. Pasalnya, musim penghujan di wilayah tersebut membuat hasil panen petani tembakau menurun, Jum’at, (28/7/2017).

Bahkahan, daun tembakau yang sudah di panen ada beberapa sebagian mulai membusuk karena kurangnya pengeringan. Kondisi seperti itu membuat kualitas panen juga tidak bisa maksimal. Sehingga para petani tembakau memilih untuk menunda waktu panen sambil menunggu cuaca membaik.

Hal itu dirasakan A’ala Efendi, salah satu petani tembakau asal Desa Guluk-guluk Kampung Kadibas, Kecamatan, Guluk-guluk, Sumenep. Ia juga hanya bisa pasrah dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat dimusim panen bulan ini.

“Tanaman tembakau saya sudah panen dan ada yang membusuk karena hujan empat hari mengguyur wilayah ini,” keluh A’ala Efendi, ketika ditemui di ladang tembakaunya.

Menurutnya, sebagian tanaman juga sudah siap di panen. Tetapi karena cuaca hujan, sehingga ada beberapa tanaman yang ditunda untuk penan pada bulan ini.

“Cuaca seperti ini membuat beberapa petani harus menunda masa panen. Karena daun tembakau menguning, dan banyak daun yang di makan ulat,” terang A’ala Efendi.

Untuk harga tembakau sebelum hujan sekitaran Rp 35 ribu per kilogram. Dengan harga tersebut petani masih merasa merugi dikarenakan banyak biaya yang harus di keluarkan, mulai dari pupuk, obat hama, serta sarana perairan.

“Setiap harinya banyak tenaga yang harus di keluarkan dari pada pendapatan,” tambah petani tersebut.

Petani tembakau menyoroti sampai saat ini gudang-gudang besar. seperti gudang garam, sampoerna, bentoel masih belum buka. Hanya gudang-gudang kecil atau bandul yang membelinya hasil penen dengan harga masih tergolong rendah.

Jika di bandingkab tahun 2016 silam, gudang besar akan buka sekitaran bulan Agustus dangan harganya sekitar Rp 45 ribu per kilogram, dan bahkan bisa terus naik.

Sementara itu, di tahun 2017 ini petani berharap kepada bantuan dari pemerintah agar harga seperti tahun lalu. Sehingga para petani merasa untung dengan hasil penen sesuai dengan pengeluaran ketika masa tanam.

“Saya berharap, pemerintah itu menaikkan harga tembakau Rp 50 ribu perkilogram atau bisa lebih,” jelas A’ala Efendi .

Menurutnya, dengan musim yang seperti ini petani akan menambahkan biaya untuk membeli obat pembersih hama daun, seperti obat ulat, mereng, dan beberepan lainnya. (aji/roh)

Tinggalkan Balasan