Pasca Runtuh, DPRD Tuban Minta Patung Dewa Kelenteng Tak Dibangun Kembali

1
Ketua DPRD Tuban H. Miyadi. (rohman)

halopantura.com Tuban – Ketua DPRD Kabupaten Tuban H. Miyadi, angkat bicara terkait insident runtuhnya Patung Dewa Perang Yang Mulia Kongco Kwan Sing Tee Koen yang berada di Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban.

Ia pun menyarankan kepada pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio Tuban agar patung yang telah runtuh tidak dibangun kembali. Alasannya, demi menghindari polemik ditengah-tengah masyarakat.

“Saran saya tidak dibangun kembali, agar tidak terjadi polemik,” kata H. Miyadi Ketua DPRD Tuban, Jumat, (17/4/2020).

Menurutnya, jika pengurus kelenteng nekat mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ke pemerintah, maka saran dewan agar tidak diberikan izin. Tetapi itu menjadi kebijakan pemerintah daerah untuk mengeluarkan izin mendirikan bangunan.

“Jika mengajukan izin ke pemerintah, saran saya agar tidak diberikan izin,” ungkap politikus senior asal PKB.

Menurutnya, agar tidak terjadi polemik dan menciptakan Tuban damai, maka pihak kelenteng harus sadar diri. Yakni patung yang telah runtuh ini supaya tidak direncanakan pembangunan kembali.

“Biar Tuban adem dan ayem, maka pihak kelenteng harus menyadari. Sudah ditutup saja dan tidak direncanakan pembangunan kembali,” ungkap H. Miyadi.

Lebih lanjut, Ketua DPRD Tuban menyinggung dulu pembangunan patung sempat dilarang karena pengurus kelenteng tidak mengantongi IMB. Tetapi pihak kelenteng memaksa untuk dilanjutkan pembangunan hingga ada peresmian patung. Akibatnya, menimbulkan gejolak, polemik ditengah-tengah masyarakat, dan penolakan keberadaan patung.

“Jangan dibangun kembali, takutnya ada efek penolakan dari masyarakat lagi,” jelas H. Miyadi yang juga Sekretaris DPC PKB Kabupaten Tuban.

Sebatas diketahui, Di tengah Pandemi Covid-19, Patung Dewa Perang Yang Mulia Kongco Kwan Sing Tee Koen yang berada di Kelenteng, tiba-tiba runtuh, Kamis, (16/4/2020) sekitar pukul 10.00 Wib.

Kini kondisi patung setinggi 30,4 meter itu hanya menyisakan kerangka bangunan dan tiang rangka yang menjulang ke atas.

Pengurus kelenteng menilai runtuhnya patung terbesar se-Asia Tenggara itu disebabkan sejumlah faktor. Diantaranya, bisa disebabkan tiupan angin dan cuaca hujan, sehingga material patung runtuh ke bawah.

Patung dewa itu dibangun mulai sejak tahun 2015 silam dengan total biaya lebih Rp 1,5 miliar dari salah satu donatur asal kota Surabaya. (rohman)

1 KOMENTAR

  1. Menurut saya, dibangun atau tidak itu bukan masalah… yang penting ada izin yang jelas… ini bukan berarti aku mendukung pembangunan patung….kalau mau ya tidak usah dibangun… tpi kalau dari pihak klenteng masih mau membangun . Kita tidak boleh mendiskriminasi mereka…. karena Indonesia bukan hanya orang Islam tpi agama minoritas juga bagian dri Indonesia…
    Kalau bisa berdiskusi tentang keuntungan dan kerugian dri dibangunnya patung bisa menjadi pertimbangan… kedua belah pihak

Tinggalkan Balasan