Perayaan Kue Bulan di Kelenteng Tuban Sebagai Pemersatu Kerukunan Umat

0
Umat Khonghucu ketika mengelar ritual dalam rangka merayakan Tiong Chiu di Kelenteng TITD Kwan Sing Bio Tuban. (rohman)

halopantura.com Tuban – Umat Khonghucu mengadakan perayaan sembahyang Tiong Chiu (Zhong Qiu Jie) di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio Kabupaten Tuban, Selasa malam, (21/9/2021). Kegiatan tersebut digelar secara sederhana dengan menerapkan disiplin protokol kesehatan (prokes) secara ketat sesuai anjuran pemerintah.

Perayaan tersebut merupakan tradisi masyarakat China untuk menyambut pertengahan musim gugur yang jatuh tiap tanggal 15 bulan delapan penanggalan Imlek yang menurut legenda berawal dari kisah Dewi Bulan atau Chang E.

Untuk tahun ini, perayaan Kue Bulan tersebut  jatuh pada hari ini tanggal 21 September 2021. “Malam hari ini kita mengadakan acara Sembahyang Tiong Chiu atau yang dikenal perayaan pertengahan musim rontok (gugur, red),” kata Alim Sugiantoro Ketua Penilik Domisioner TITD Kwan Sing Bio Tuban.

Pada perayaan tahun ini, pengurus kelenteng menampilkan tontonan para pasangan muda-mudi mengenakan berbagai baju khas China. Bahkan, tampak sejumlah pasangan yang juga mengenakan baju tradisional Jawa.

Kemudian umat Khonghucu menggelar sembahyang untuk memohon ijin kepada sang pencipta alam semesta, bahwa umat di bumi hendak merayakan Tiong Chiu dengan menyembahyangi Dewi Bulan. Tujuannya, untuk meminta kemakmuran dan lain sebagainya.

Setelah selesai ritual, pasangan muda-mudi yang mengenakan kostum khas China itu diarak naik perahu nelayan dengan dihiasi lampu lampion. Selanjutnya, mereka diarak untuk keliling di kolam jembatan sembilan Kelenteng Tuban.

Pertunjukan pada malam hari itu menjadi tontonan menarik bagi masyarakat yang hadir sambil menikmati kue bulan dan teh hangat di bawah cahaya bulan purnama. Dimana, momentum itu juga melambangkan kerukunan, kebersamaan dalam keberagaman dan menjadi ajang pemersatu silaturahmi kepada siapa saja yang hadir dalam perayaan festival kue bulan itu.

“Kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama harus dijaga. Karena kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” jelas Alim panggilan akrab Alim Sugiantoro.

Ia menjelaskan perayaan ini terjadi saat bulan purnama, yaitu fenomena ketika bulan dalam ukuran paling besar dengan jarak paling dekat dengan bumi. Dimana, keluarga berkumpul serta makan kue bulan sambil menikmati bulan purnama.

“Bulan yang terbulat sepanjang setahun ini adalah hari ini,” tambah Alim yang akrab dengan awak media Tuban.

Alim menambah dalam sembahyang Tiong Chiu juga mendoakan agar pandemi ini segera berakhir. Karena pemerintah tengah menggencarkan program percepatan vaksinasi Covid-19.

“Semoga kita terhindar dari Covid-19 dan pandemi segera berakhir karena vaksinasi sudah berjalan lancar,” tegas Tokoh Khonghucu itu.

Selain itu, ia berharap semoga perekonomian di Indonesia bisa segara pulih dan kembali lancar. Termasuk, para petani menjadi sejahtera dan hasil panennya melimpah untuk kemakmuran.

“Semoga kita semua diberikan kemakmuran,” harap Alim Sugiantoro.

Lebih lanjut, ia menegaskan perayaan ini rutin di gelar setiap tahun di Kelenteng Tuban. Tahun kemarin dan tahun ini digelar secara sederhana karena masih dalam kondisi Pandemi Covid-19.

“Kita laksanakan secara sederhana, dan siapapun boleh merayakan, karena kita menyatu adalah NKRI,” pungkasnya. (rohman)

Pasangan muda-mudi mengenakan baju khas China naik perahu keliling kolam sambil menyapa tamu undangan di Kelenteng Tuban. (rohman)

Tinggalkan Balasan