Sering Malak, Pria Bertato Ini di Hukum 22 Bulan Penjara

0
Tubuh Ani Yulianto penuh dengan tato. (Musyafa')
Tubuh Ani Yulianto penuh dengan tato. (Musyafa')

halopantura.com Tuban – Pria bertato ini divonis Perela De Esperanza, Ketua Hakim Majelis Pengadilan Negeri (PN) Tuban dengan hukuman pidana selama 22 bulan kurungan penjara, Rabu, (17/5/2017). Pasalnya, dia sering melakukan pemalakan dengan meminta uang kepada masyarakat, serta  membuat warga resak di karena membawa senjata tajam.

Pria itu diketahui bernama Ani Yulianto (37), warga Desa Gilang, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung. Serta saat ini dia telah menjalani hukuman di Lapas Tuban karena terbukti melakukan pemerasan dan menyimpan senjata tajam tanpa ada surat ijin resmi.

“Dia telah ditahan di Lapas Tuban dengan vonis hukuman pidana selama 1 tahun 10 bulan. Tuntutan kita terhadap terdakwa saat itu adalah dua tahun enam bulan,” terang Radit Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Tuban.

Penangkapan pria itu berawal dari laporan masyarat yang merasa resah dengan keberadaan pria bertato tersebut, pada awal bulan Febuari 2017 kemarin. Selanjutnya, anggota Polsek Rengel, Polres Tuban melakukan patroli di jalan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat.

Ketika berada di lokasi kejadian petugas mencurigai seorang laki – laki tersebut yang sedang berdiri ditepi jalan, tepatnya di depan pasar Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Saat itu dia juga terlihat sedang meminta “memalak” uang kepada para sopir dan pengguna jalan.

Setelah diperiksa, pria tersebut juga membewa sebilah pisau dari besi yang diselipkan dibagian perutnya. Serta sebilah sabit yang di taruh didalam tas rangsel warna hitam yang dibawanya.

“Barang bukti itu telah dihadirkan dalam proses persidangan. Kerana terdakwa saat itu menguasai dan menyimpan senjata tajam tanpa ada ijin dari pihak berwewenang,” terang Jaksa muda tersebut.

Sebelum diamankan polisi, pria bertato itu juga pernah meminta uang kepada seseorang di sebuah warung di Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel. Uang tersebut akan digunakan untuk membeli minuman tuak di warung tersebut.

Merasa takut dengan pria tersebut karena membewa sejata tajam, maka pembeli yang berada di warung itu memberikan uang sebesar Rp 20 ribu. Tetapi saat akan dibelikan tuak, ternyata tuak di warung itu sudah habis.

“Setelah diberi uang, dia (pria bertao, red) langsung pergi meninggalkan warung,” jelas Radit. (saf/roh)

Tinggalkan Balasan