Sudahkan Saya Bertakwa?

0
Ikhwan Fahrudin

Oleh : Ikhwan Fahrudin*

Man arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya”

Menjadi manusia yang ditugaskan oleh Tuhan untuk hidup dan menghuni bumi. Manusia “terbebani” sebuah tanggungjawab. Yakni; beribadah. Tak hanya manusia semata. Jin pun mendapatkan tugas yang sama dengan manusia. Namun, jin ditakdirkan oleh Allah tak nampak alias ghaib. Dan, kedua mempunyai kesamaan dibidang beribadah. Berbeda dari segi asal ciptaanya. Manusia diciptakan oleh Allah dari tanah dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Sebagai tugas pokok hidup di dunia. Beribadah menjadi suatu hal yang harus dikerjakan berdasarkan waktu, cara, dimensi, kualitas, dasar panduan dll., sesuai kaidah fikih islam dan sunah Rasulullah.

Ketika kita telah melakukan ibadah kepada Tuhan. Kita setidaknya merefleksikan diri, sejauh mana kualitas ibadah kita kepada-Nya. Seberapa terikat pikiran kita tertuju kepada-Nya? Sudahkan yakin rangkaian ibadah yang telah kita lakukan seratus persen diterima oleh Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini seyogyanya selalu ada di benak kita.

Dengan merenungkan dan menjabarkan pertanyaan di atas kita berusaha mencapai derajat “ahsanu taqwim” (sebaik-baiknya ciptaan) dan menjauhkan dari derajat “asfala safilin” (hina dina). Merefleksikan hidup artinya merenungkan kembali diri yang selama ini terbenam oleh peristiwa keseharian yang membuat absurd antara ‘sarana’ dan ‘tujuan’ dan terkadang sibuk dengan hal-hal kontra-produktif.

(Sudahkan) saya bertakwa?

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak tampak pada mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala besar.” (QS. Al Mulk: 12)

Sukses yang sesungguhnya bukanlah bergelimang harta. Melainkan takwa (takut berbuat maksiat) dengan sebenar-benarnya kepada Allah. Kita sebagai hamba-Nya senantiasa memohon ampun kepada sang Illahi rabbi. Beristighfar. Berzikir, melantunkan kalimat toyyibah.

Saya yang masih berlumuran dosa, kiranya masih belum layak dimasukkan ke surga. Tapi disisi lain, saya juga tidak siap jika harus terbakar api neraka.

Dalam berdoa saja saya masih “terjajah” oleh nafsu. Masih meminta ini-itu yang pada dasarnya saya tidak serius dalam meminta. Disaat saya butuh, saya baru “mencari” Tuhan. Nangis-nangis memohon dikabulkan setiap permintaan. Disaat saya menikmati kenikmatan dari Allah. Saya berpaling dari-Nya. Hamba macam apa saya ini? Masih tidak ikhlas dalam beribadah. Masih hubbud dunnya.

Merenungkan; Saya masih takut miskin disaat saya mensedekahkan sebagian harta saya. Saya masih ragu disaat saya doa disaat qiyamul lail. Saya masih mengharap bayaran disaat saya mengisi kajian materi, menebar ilmu. Saya masih mamang disaat hendak menikah. Mamang akan tak mampu menafkahi isteri saya nanti. Saya masih menginginkan ongkos dan fasilitas wah saat diundang menjadi keynot speaker seminar bedah karya. Ah, manusia macam apa saya ini. Matrealistik. Tak pantas menjadi hamba yang taat.

Abdullah bin Umar ra mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.

Terkadang kita lalai dengan segala bentuk dosa kita yang telah kita lakukan. Lalai akan kenikmatan yang Allah berikan. Dengan hiruk pikuk masalah duniawi yang membutakan batin kita. Lupa cara menyesali kesalahan kita. Lupa menangis mengingat hilaf kita.

al-Hasan al-Bashri pun pernah menangis, lantas ada yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Beliau menjawab, “Aku khawatir besok Allah akan melemparkan diriku ke dalam neraka dan tidak memperdulikanku lagi.”

Dan, ketika suatu malam beliau terbangun dari tidurnya lalu menangis menjadi-jadi sampai tangisannya membuat seluruh penghuni rumah terkaget dan terbangun. Lantas mereka mencari tahu sebab kenapa dia menagis, dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”

Jika Ia menangis tersedu-sedu mengingat dosanya. Ia adalah satu satu ulama yang saleh. Bagaimana dengan kita? Yang dosanya tak terhitung denga jari ini? Astagfirullah. Maaf kami ya Rabb. Engkau Maha Berbelas kasih.

Untuk mencapai tujuan kemulian tersebut tentu harus di lakukan dengan menjalankan syariat Allah dengan sebenar-benarnya. Selalu berusaha mewujudkannya dalam setiap sendi kehidupan kita. Agar kita tidak terjebak kedhaliman dan mendapatkan keselamatan. Dan, juga kita senantiasa bertawakkal kepada Allah. Meminta pertolongan kepada Allah agar di beri kekuatan untuk merealisasikannya, supaya selamat dari halangan dan rintangan yang kita hadapi.

*penulis lahir di Dusun Beru Gembong Lamongan, 26 Januari 1993. Alumni SMA YTPAI Raudlatul Muta’allimin tahun 2010. Anak petani yang bermimpi menjadi penulis hebat.

Peyandang status ‘jomblo’ bahagia yang setiap harinya mengetik tombol keyboard komputer untuk berkaya tulis. Menempuh pendidikan S1 di Universitas PGRI Ronggolawe Tuban. Aktif di PC PMII Tuban dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Sekarang telah mengajar di LPIT Al Uswah Tuban. Menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Al Uswah Tuban. E-mail:ikhwanfahrudin588@gmail.com

Tinggalkan Balasan