Syech Subakir Penakluk Lelembut di Tanah Jawa

0
Makam Syech Subakir di Jenu Tuban. (dok)

halopantura.com Tuban – Makam Syech Subakir yang merupakan penyebar agama Islam di tanah Jawa, masih kuat menyimpan aura mistik. Tempat tersebut berada di kawasan Tanjung Awar-awar, Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.

Saat berada di lokasi, perasaan dan hati begitu berbeda, terlebih ketika melihat dua cungkup (bangunan makam, red) dari peyebar agama Islam tersebut. Selain itu, ditempat tersebut begitu asri yang dikelilingi pohon besar dan cocok untuk berdoa kepada Allah. Setiap harinya, makam tersebut tidak sepi dengan para pengunjung yang datang dari berbagai daerah untuk berziarah.

“Komplek ini terbilang jarang sepi, satu dua orang pasti ada yang berkunjung untuk ziarah,” kata juru kunci makam.

Memasuki cungkup, kita harus menunduk karena pintu tidak lebih dari satu meter. Di dalam cungkup kita bisa melihat satu makam yang ditutupi menggunakan kain warna putih. Dinding cungkup terdapat tulisan peringatan tentang larangan meminta sesuatu kepada makam, dan kalau minta hanya ditujukan kepada Allah SWT.

Juru kunci, menjelaskan secara jelas sosok Syech Subakir yang bisa sampai di tanah Jawa ini. Karena Tanah Jawa sebelum agama Islam masuk, terkenal dengan alam goibnya dan berbagai roh lelembut.

“Tanah Jawa terkenal singit saat itu,” terang juru kunci makam.

Bahkan, suhu negatif dari bangsa lelembut inilah, yang menjadikan penyebaran agama Islam di Jawa cukup sulit untuk diterima oleh masyarakat. Berbagai tokoh yang singgah di Jawa untuk menyebarkan ajaran selalu gagal. Hal tersebut dikarenakan, tanah Jawa sangat kuat dan kental dengan ilmu goaibnya. Masyarakat saat itu, juga cenderung mentuhankan benda-benda kuno dan pohon besar yang dianggap membawa berkah buat mereka.

Melihat kondisi jawa seperti itu, diutuslah Syech Subakir untuk menyebarkan ajaran agama Islam dari Arab. Bahkan saat itu, Syech Subakir dikenal sebagai penakluk bangsa lelembut dari berbagai tempat.

“Setelah di taklukan, bangsa halus tersebut tidak lagi jahat dan selalu mengikuti Syech Subakir hingga menjaga makam yang ada di Tanjung Awar-awar Desa Tasikharjo,” terang Saliman ini.

Sejak awal Syech Subakir mengemban misi yang berbeda dibanding para wali yang lain. Dia berkeinginan membuka tanah Jawa yang masih hutan belantara supaya lebih layak untuk ditempati manusia. Dengan begitu, Islam akan lebih mudah lagi diterima orang Jawa.

Melihat masih banyaknya hawa negatif di tanah Jawa. Syech Subakir kemudian melakukan musyawarah dengan beberapa penyebar agama Islam yang lain. Hasilnya adalah mereka berdoa kepada Allah SWT supaya bisa diberikan kekuatan membersihkan tanah Jawa, dan memusnahkan hawa jahat supaya Jawa lebih layak ditempati manusia, dan Islam bisa berkembang di tanah subur ini.

“Batang pohon yang besar dan angker ditebang, dan semua makhluk halus yang mempunyai hawa negatif berusaha dibersihkan,” terangnya.

Saat melakukan itu, tak jarang Syech Subakir harus bertarung melawan para dedemit atau penguasa lelembut. Semua makhluk itu ditangkap dan kemudian ada dibuang ke wilayah laut selatan, hal inilah yang menjadikan wilayah laut selatan mempunyai ombak yang besar dan cukup membahayakan bagi siapapun yang tidak berhati-hati.

“Itulah kenapa air laut yang ada di laut kidul mempunyai ombak yang besar dan berbahaya,” kata Saliman.

Tidak cukup itu, Syech Subakir juga merasa perlu menanam tumbal di Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah. Penumbalan Gunung Tidar karena gunung ini diyakini sebagai pusat pulau Jawa. Sehingga perlu dilakukan penumbalan supaya keseimbangan alam tetap terjaga. Penumbalan dilakukan, supaya manusia yang hidup di Jawa bisa hidup rukun, mau bekerjasama, saling menghargai, dan sejahtera.

“Penumbalan di Gunung Tidar karena itu pusat Jawa, kalau pusat bumi itu kan ada di Mekkah sana,” kata keturunan ketujuh juru kunci makam Syech Subakir ini.

Selanjutnya, usai melakukan pembersihan dan penumbalan gunung Tidar, barulah penyebaran agama Islam bisa dilakukan dengan mudah. Kemudian masuklah wali-wali lain yang lebih kita kenal dengan istilah walisongo yang menjadikan Islam bisa tersebar dengan pesat.

Selain keyakinan makam Syech Subakir ada di Tanjung Awar-awar, Kecamatan Jenu, di Tuban juga ada dua versi lain yang terkenal. Versi yang pertama, adalah makam Syech Subakir berada di Trowulan Mojokerto dan dikenal sebagai Syech Jumadil Kubro.

Tinggalkan Balasan