Bertahan 15 Tahun, Mbah Joni Tekuni Membuat Wayang Karton

0
Wayang Karton Buatan Mbah Joni Tukirin. (Galuh Setiyadi)
Wayang Karton Buatan Mbah Joni Tukirin. (Galuh Setiyadi)

Halopantura.com Bojonegoro – Pengrajin wayang karton saat ini sudah semakin jarang ditemukan. Hal itu seiring dengan perkembangan jaman yang lebih maju, serta berkurangnya pementasan wayang kulit ada di Kabupaten Bojonegoro ini.

Namun, ditengah kesenian wayang kulit yang jarang dipentaskan, bahkan semakin memudar, ada salah satu pengrajin yang masih kukuh untuk membuat wayang berbahan kertas
karton.  Dia adalah Joni Tukirin (75) asal Kelurahan Ngrowo, Kecamatan Kota Bojonegoro.

Kalangan masyarakat sering memanggil  Mbah Joni, dan sudah menekuni profesi itu selama 15 tahun lebih.  Ia membuka lapak berukuran sederhana di Jalan Hayam wuruk, Kelurahan Ngrowo untuk mengembangkan usahanya itu.

Keahlian membuat wayang dia dapat ketika iseng. Selain itu, pria asli Klaten, Solo Jawa tengah ini juga hobi dengan wayang. Bermula iseng sejak dirinya masih muda, ia kemudian mencoba membuat wayang berbahan dari karton.

Wayang karton yang ia buat berbagai lakon, yakni pandawa lima, dursa sana, baladewa, dan lain sebagainya. Kemudian, wayang buatannya itu dijual ketika masih sering ada pertunjukkan wayang kulit dan wayang buatan itu laku banyak.

Selang beberapa hari kemudian, Joni beripikir mengembangkan bakat untuk mendapatkan uang. Dari situlah, Joni kemudian terus membuat wayang berbahan karton hingga sampai saat
ini.

“Ketika saya masih muda, saya iseng-iseng membuat wayang karton, kemudian saya jual dan banyak yang menyukai, dari situlah saya kembangkan untuk mendapatkan uang, sampai saat ini,” cerita Mbah Joni.

Wayang karton yang dijual harganya bervariasi, mulai antara tiga ribu, dua puluh ribu, dua puluh lima ribu hingga lima puluh ribu rupiah. Harga itu disesuaikan dengan jenis tokoh wayang dan tingkat kesulitan pembuatan.

Membuat wayang karton memiliki tingkat kesulitan yang lebih dari wayang-wayang lainnya. Sebab, selain ketelitian lebih, juga harus bisa memunculkan motif pamor pada wayang tersebut.

“Membuat wayang tidak harus asal membuat, akan tetapi juga harus
bisa memunculkan motif pamornya,” pungkasnya. (gal/roh)

Tinggalkan Balasan